Showing posts with label peduli taneh karo. Show all posts
Showing posts with label peduli taneh karo. Show all posts

Membantu Pengungsi Letusan Gunung Sinabung

Pengungsi Sinabung
BENCANA meletusnya Gunung Sinabung si bulan suci Ramadhan sungguh mengejutkan dan memprihatinkan. Para elit penguasa harusnya introspeksi: mengapa bencana terus terjadi melanda banga ini?
Jelas akibat dosa dan bukan pahala. Bencana adalah petunjuk dari Allah bahwa manusia berdosa di dunia ini fana. Bencana Sinabung cermin hal-ihwal itu juga.
Begitu banyaknya pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung yang jumlahnya mencapai 18.665 jiwa, membuat seluruh lokasi penampungan penuh. Sebagian pengungsi pun kesulitan mendapatkan tempat beristirahat malam.
Sitepu, seorang pengungsi yang berada di penampungan Jambur Lige, Jl Mariam Ginting, Kabanjahe, tak yakin dapat tidur di penampungan malam ini. Kapasitas penampungan terlalu kecil dibandingkan jumlah pengungsi. Sitepu rencananya ingin tidur di emperan yang ada di sekitar lokasi penampungan tersebut. Namun saat Sitepu mengenakan jaket agar tidak kedinginan, hujan membuat emperan yang diincarnya menjadi basah dan tidak mungkin digunakan tidur. Ia berharap ada sedikit ruang di penampungan yang bisa untuk istirahat malam.

Brastagi, Kota Wisata dan Buah

Tugu Brastagi
Brastagi adalah tujuan wisata utama di Tanah Karo yang terletak di ketinggian sekitar 4.594 kaki dari permukaan laut dan dikelilingi barisan gunung-gunung, memiliki udara yang sejuk dari hamparan perladangan pertaniannya yang indah, luas, hijau. Brastagi merupakan daerah tujuan wisata yang memiliki fasilitas lengkap di Tanah Karo, seperti hotel berbintang, restoran, golf dan lain-lain sampai kepada hotel yang tarifnya relatif dapat terjangkau. Brastagi juga dikenal dengan julukan kota “Markisa & Jeruk Manis”.

Gunung Sibayak

Puncak Gunung Sibayak
Sampai saat ini sepertinya Gunung Sibayak tidak akan habis-habisnya didaki oleh pencinta alam yang datang dari berbagai pelosok daerah. Pada hari-hari tertentu lokasi wisata penuh petualangan ini seperti layaknya pasar malam. Lautan manusia tumpah bersama lampu, lilin yang memancarkan keindahan ketika malam hari. Deru angin yang dingin menambah pesona Gunung Sibayak bertambah menarik untuk dikunjungi.
Gunung Sibayak (2094 mdpl) secara administratif terletak di Desa Raja Berneh atau lebih dikenal dengan sebutan Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Karo (60 KM dari Kota Medan). Daerah yang berada di kaki Gunung Sibayak merupakan kawasan pertanian yang bercocok tanam sayuran dan hortikultura lainnya. Tidak salah kalau lokasi ini menjadi salah satu daerah tujuan agrowisata yang ada di Sumatera Utara.

AKSI PEDULI TANEH KARO

AKSI "ERDIATE" TANEH KARO
Saat ini sudah lebih dari 10.000 orang anggota dari komunitas Kita Kalak Karo (K-3) Facebook. Seandainya setiap orang dari kita menyumbangkan Rp 10.000 setiap bulannya, akan sangat banyak dana yang terkumpul yang dapat kita gunakan untuk kemajuan taneh Karo dan Kalak Karo.

Asumsi :
Banyaknya Anggota : lebih dari 10.000 Orang Karo
Per orang kita nyumbang : Rp 10.000 / bulan (Jumlah yang tidak terlalu memberatkan)

Dalam 1 Bulan akan terkumpul dana :
10.000 orang x Rp 10.000 = Rp 100 Juta

Dalam 1 Tahun :
Rp 100 Juta x 12 (Bulan) = Rp 1,2 Milyar

Itu kalau Rp 10.000,-.Kalau semakin besar kita sumbangkan akan semakin besar dana yang akan kita kumpulkan. Dengan Dana ini, banyak yang dapat kita lakukan untuk kemajuan Taneh Karo.
antara lain :

1. PEMBENTUKAN SANGGAR BUDAYA
Nantinya akan menjadi tempat buat kita belajar dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan Budaya Karo (Misalnya; Belajar Tari Karo, Bahasa Karo, Memainkan alat musik karo, belajar memasakan masakan khas karo, dan lain-lain)

Menyelamatkan Rumah Adat (KARO)

"Mari Erdite.."
Nada suara Rajadat Bukit terdengar berat saat menceritakan nasib rumah adat milik keluarganya di Desa Melas, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara Matanya menerawang ke masa 30 tahun lalu, saat dirinya bersama tujuh keluarga lain harus meninggalkan rumah adat. Gerimis sore itu seperti memaksa Rajadat mengingat satu-satunya kesalahan komunal warga Karo yang menelantarkan warisan leluhur mereka, tak dapat merawat rumah adat.

Rumah adat milik keluarga Rajadat kini hampir rusak seluruhnya. Atap ijuknya di beberapa tempat telah berlubang, tak kuasa menahan gempuran air hujan. Akibat lama tak dirawat, banyak lumut tumbuh di atap ijuk tersebut.